Showing posts with label Indonesian. Show all posts
Showing posts with label Indonesian. Show all posts

Pengaruh budaya barat dalam pendidikan di negara berbudaya timur


By: Muhammad Sutalim
Seyogyanya berkembangnya pengetahuan, informasi dan teknologi dapat menyumbangkan serta mengembangkan budaya-budaya yang sudah ada menjadi lebih baik. Budaya leluhur yang diturunkan berabad abad memberikan kekhasan pada setiap daerah, ciri ciri khas tersebut memiliki arti tidak hanya sekedar sebuah keunikan dalam bidang seni saja akan tetapi mempengaruhi dalam segala bidang kehidupan sosial, salah satunya adalah bidang pendidikan.
Selama ini budaya di kenal terpisah menjadi dua golongan besar yaitu budaya barat dan budaya timur. Budaya barat lebih terkenal dan popular dengan cirinya dalam kemajuan teknologi yang pesat, pusat kemajuan ilmu pengetahuan dan pergaulan yang bebas (liberal) sedangkan budaya timur sering di lihat dari nilai kesopanan dalam pergaulan dan tata krama kepada sesama.
Dalam dunia pendidikan pengaruh – pengaruh cultural sering kali mendapatkan soratan, hal ini tidak lain muncul dari pandangan setiap orang mengenai kedua budaya tersebut. Pada dasarnya ada dua pandangan yang mencerminkan pengaruh budaya barat terhadap pendidikan di negara-negara yang memiliki budaya timur. Pertama adalah pandangan positif, dimana beberapa orang mengklaim bahwa dengan adanya budaya barat yang masuk membuat sebagian sistem pendidikan lebih berkembang di bandingkan sebelumnya, contohnya saja bahwa dengan adanya budaya barat yang menemukan teori pembelajaran baru dengan memperbolehkan siswa untuk mencari tahu pengetahuan dari berbagai sumber belajar menjadikan anak lebih kratif dan mampu mengembangkan bakat yang dimilikinya, selain itu dengan seriiringnya perkembangan teknologi – teknologi informasi modern, menjadikan anak lebih mudah berkomunikasi dan mendapatkan pengetahuan dari segala pelosok penjuru dunia.
Adanya teknologi dari barat menjadikan waktu pembelajaran bisa lebih fleksibel tidak harus bertatap muka dan dilaksanakan secara klasikal saja, dengan perkembangan teknologi canggih memungkinkan sumber informasi dapat diterima anak dengan mudah karena mampu melayani setiap tipe belajar. Bersumber dari statement itulah yang menjadikan sebagian orang percaya bahwa budaya barat mampu memberikan banyak manfaat bagi pendidikan budaya timur.
Hal tersebut lain ceritanya jika dilihat dari kacamata beberpa orang yang kurang menyetujui pernyataan bahwa budaya barat memiliki manfaat lebih dibandingkan budaya timur dalam bidang pendidikan. Alasannya adalah budaya barat lebih mementingkan sifat intelektual anak saja sedangkan tujuan pendidikan bukan hanya mengasah otak intelektual anak saja melainkan juga dalam penanaman nilai-nilai luhur, dengan anak mudah mengakses informasi bukan berarti mereka cenderung memanfaatkannya untuk menambah ilmu akan tetapi lebih banyak digunakan untuk membuka konten-konten yang tidak layak untuk mereka, hal ini terbukti dengan banyaknya kasus di amerika bahwa anak dibawah umur 17 sering mendapatkan email mengenai suatu konten yang tidak tepat diberikan pada usia mereka, sehingga bagi beberapa orang yang menolak budaya barat, lebih melihat kekurang efektifan perkembangan teknologi yang canggih tersebut serta penekanan pada segi intelektual saja.
Dari beberapa penjelasan dan pendapat mengenai pengaruh budaya barat dalam dunia pendidikan diatas, diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa budaya barat disadari ataupun tidak, memiliki banyak pengaruh dalam memperbaiki mutu/kualitas pendidikan di neraga berkebudayaan timur, meskipun tidak luput dari efek-efek negative yang dibawanya, kuncinya adalah terletak pada filter yang digunakan untuk menyaring kebudayaan barat sehingga dapat menyesuaikan dan memberikan banyak manfaat bagi pendidikan di negara berbudaya timur.

Psikologi Pendidikan "definisi dan cakupan"


By: Muhammad sutalim
A. Definisi psikologi
Psikologi berasal dari kata psyche dan logos. Psyce berarti jiwa sedangkan logos merupakan ilmu sehingga secara harfiah bisa dikatakan ilmu jiwa. Walaupun begitu ilmu jiwa atau jiwa sebgai obyek kajian sangat sulit untuk didefinisikan secara mandiri walaupun keberadaannya tidak dapat dipungkiri. Untuk melihat bahwa jiwa itu memang ada adalah dengan mengamati gejala-gejala yang menyertai seseorang atau individu dan gejala gejala jiwa itu dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu : 1. Gejala kognitif (pengenalan) 2. Gejala afektif (perasaan) 3. Gejala keinginan(konatif). 4 gejala campuran (psikomotorik).
Menurut ensiklopedia nasional jilid 13 (1990) menyebutkan bahwa psikologi itu merupakan sebuah kajian ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dan binatang secara tampak maupun tidak nampak. Sedangkan definisi yang sekarang ini menyempurnakan definisi sebelumnya yaitu psikologi merupakan kajian ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia secara individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan baik yang nampak maupun tak nampak baik disadari maupun tidak, kelakuan nampak bisa dicontohkan seperti membaca, mengamati sedangkan yang tak nampak seperti saat melakukan analisis atau berfikir.
B. Definisi pendidikan
Pendidikan menurut kamus bahasa Indonesia (1991) pendidikan diartikan sebuah proses pengubahan tingkah laku atau sikap seseorang maupun kelompok menjadi lebih dewasa melalui pelatihan serta pengajaran. Sedangkan definisi sekarang tentang pendidikan adalah suatu usaha secara sadar atau disengaja untuk mengubah tingkah laku manusia secara individu maupun kelompok dalam mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.
C. Definisi psikologi pendidikan
Menurut whiterington (1978) psikologi pendidikan adalah sebuah studis sistematis tentang suatu proses dan disertai juga factor factor kejiwaan dalam hubungannya dengan pendidikan manusia. Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (1984) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam dalam situasi pendidikan.
Menurut Elliot dkk. (1999) meyatakan bahwa psikologi pendidikan merupakan penerapan teori-teori psikologi untuk mempelajari perkembangan, belajar, motivasi, pengajaran dan permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan. Sehingga dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan merupakan ilmu yang mempelajari penerapan teori-teori psikologi dalam bidang pendidikan. Disinilah peranan psikologi yang membahas berbagai tingkah laku yang muncul serta perlu dimunculkan untuk mendukung sebuah proses belajar dan pembelajaran.
D. Ruang lingkup psikologi pendidikan
Karena psikologi mengkaji sebuah tingkah laku maka dalam ilmu psikologi pendidikan yang menjadi ruang lingkup kajiannya adalah semua tingkah laku yang muncul ketika proses belajar dan pembelajaran sedang berlangsung sehingga sorotannya terletak pada guru dan siswa.
Sumber: psikologi pendidikan (uny pers)2007

pendidikan islam season 1

pendidikan islam bertujuan untuk menciptakan manusia yang mempunyai kepribadian baik dan utuh, sehat jasmani dan rohani sehingga dapat tercipta ahlakulqarimah yang sempurna. tujuan pendidikan islam hampir sama dengan tujuan pendidikan nasional sehingga kalau ingin menjadi manusia yang baik bukan hanya pintar dalam ilmu agama saja  melainkan perlu jua untuk pintar dalam ilmu dunia.  pendidikan islam untuk pertama kali harus diajarkan oleh orang tua peserta didik, hal ini dikarenakan bahwa anak yang baru lahir ia akan melakukan proses pembelajaran melalui lingkungan yang ada disekitarnya yaitu sebuah keluarga kecil yang terdiri oleh ibu dan ayah. sehingga peran orang tua dalam memberikan ilmu pokok atau pendidikan islam ini sangat penting sekali untuk perkembangan pembelajaran anak ditingkat selanjutnya.

Tahap Pengembangan Kognitif (piaget)


Stage Tahap Characterised by Characterised oleh
Sensori-motor Sensori-motor
(Birth-2 yrs) (Lahir-2 yrs)
Differentiates self from objects membedakan diri dari objek Recognises self as agent of action and begins to act intentionally: eg pulls a string to set mobile in motion or shakes a rattle to make a noise Diri sebagai agen Recognises tindakan dan mulai bertindak sengaja: menarik misalnya string untuk mengatur ponsel dalam gerakan atau getaran mainan untuk membuat suara
Achieves object permanence: realises that things continue to exist even when no longer present to the sense (pace Bishop Berkeley) Obyek mencapai keabadian: menyadari bahwa hal terus ada bahkan ketika tidak lagi hadir untuk pengertian (kecepatan Uskup Berkeley)
Pre-operational Pra-operasional
(2-7 years) (2-7 tahun)
Belajar untuk menggunakan bahasa dan untuk mewakili objek dengan gambar dan kata-kata Berpikir masih egosentris: mengalami kesulitan mengambil sudut pandang orang lain Mengklasifikasikan objek dengan fitur tunggal: kelompok misalnya bersama-sama semua blok merah terlepas dari bentuk atau semua blok persegi tanpa warna
operasional concret
(7-11 years) (7-11 tahun)
Dapat berpikir logis tentang obyek-obyek dan peristiwa Konservasi mencapai angka (umur 6), massa (umur 7), dan berat (umur 9) Mengklasifikasikan benda menurut beberapa fitur dan dapat memesannya dalam seri sepanjang dimensi tunggal seperti ukuran.
Formal operational operasional Formal
(11 years and up) (11 tahun ke atas)
Dapat berpikir logis dan abstrak proposisi tentang uji hipotesis systemtically Menjadi prihatin dengan hipotetis, masa depan, dan ideologis masalah

e-learning season 1

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau sering disebut ( TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan, salah satunya adalah saat proses pembelajaran. dahulu sebelum adanya TIK pembelajaran hanya dianggap sebagai suatu proses pemberian ilmu yang dirancang didalam kelas dan sumber hanya terdapat atau terpusat kepada guru semata, namun setelah adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semua pandangan tersebut berubah yakni bahwa pendidikan bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dapat dirancang sebelumnya maupun tidak, dan guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. dengan demikian paradigma pembelajaran yang dulu hanya diasumsiakan didalam ruang-ruang kelas sekrang bergeser ke cyber space yaitu belajar didunia maya.

e-learning

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI KELAS


Oleh: Prof. Dr. H. Mohamad Surya*

 

Teknologi komunikasi dan informasi dalam pendidikan

              Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisionalSaat ini e-learning telah berkembang dalam  berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti:  CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
 
  Satu bentuk produk TIK adalah internet  yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK  telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
              Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka  pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat  tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.  Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema "Asia in the New Millenium" yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.  
              Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini,  akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) alat-alat musik, (5) alat olah raga, dan (6) bingkisan untuk makan siang.  Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.                 
                Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
              Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.
              Hal itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
              Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru telah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:

Lingkungan
Berpusat pada guru
Berpusat pada siswa
Aktivitas kelas
Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis
Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai akhli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat fakta-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan
Akumujlasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman , penilaian acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi

    
Kreativitas dan kemandirian belajar

              Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil  pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan  semua potensi yang dimilikinya..
              Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.
              Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.


Peran guru

              Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.

--------------
*) Guru Besar UPI  Bandung/Ketua Umum PB PGRI/Anggota DPD-RI
Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.

Home

Popular Posts

Followers

 

Beranjak Up date

Loading...

Blog Archive

negara

free counters
 

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger